Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Januari 2020

Kisah Haru Seorang Perantau Muda


Kisah Haru Seorang Perantau Muda

Aroma tanah di pagi hari seusai hujan semalam menusuk kedua lubang hidungku, aku pun bergegas menuju sebuah langgar kecil dengan sarung yang ku balutkan ke tubuh dan peci hitam yang menutupi helaian rambutku. Sang mentari mulai menampakkan dirinya dan membawaku ke sebuah himpitan sawah dan pepohonan asri yang nantinya akan jarang aku rasakan lagi.

”Aku akan kembali lagi dan siap menjunjung tinggi martabat keluargaku nanti,” gumamku dalam hati sambil menatap senyum indahnya sang mentari.

Hari ini aku mulai menyiapkan barang-barang yang akan kubawa ke tempat di mana aku menempuh jenjang pendidikan kuliah. Ya, malam nanti aku berangkat ke Jakarta dan mulai menjadi seorang perantau untuk mengasah otakku agar lebih berisi. Seharian penuh itu aku membantu pekerjaan rumah keluargaku, aku tak punya pembantu, jadi pekerjaan rumah adalah suatu kewajiban yang harus dikerjakan bagiku.

Tak henti-hentinya aku merasakan keresahan di hari itu, rasanya hati tak siap meninggalkan seluruh isi perkampunganku, terutama keluarga dan saudara-saudaraku termasuk teman-teman masa kecilku. Tapi ketika hati merasakan itu, otak menyangkalnya dengan penuh gebuan bahwa aku harus menerima ini dan ikhlas menjalaninya. Ini demi diriku sendiri dan kedua orangtuaku.

Hari sudah menjelang petang, Ayah dan Ibuku satu persatu mulai datang dari mencari uang. Wajahnya yang ranum membuatku sedih dan tak tega akan meninggalkannya. Seperti biasanya, ketika mereka datang aku pasti mencium tangan dan kedua pipinya. Bau keringat halal merekalah yang selalu mendorongku untuk hidup yang lebih maju.

Meskipun aku seorang lelaki, tapi memasak adalah salahsatu hobiku di rumah. Sore itu aku membantu Ibu menyiapkan hidangan lezat untuk makan malam Ayah dan Adikku. Memasak dengan sepenuh hati membuatku sadar kalau ini akan menjadi romantisme masak aku dan Ibuku untuk yang terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke perantauan.

Detikan jam dinding sudah berteriak kepadaku, itu tandanya aku harus berangkat meninggalkan kedua orangtua dan adikku. Menangis, iya aku tak kuat menahan linangan air mata ini. Mencium dan memeluknya adalah suatu kebahagiaan yang tak bisa oranglain berikan kepadaku. Sepanjang perjalanan menuju tanah perantauan, tak henti-hentinya aku berdoa untuknya agar selalu diberi kesehatan dan semoga dapat kujumpai kembali nanti saat aku pulang.

Setelah tiba di Jakarta, aku mencoba menghilangkan kesedihan itu dan mengganti dengan rasa semangat dan penuh keikhlasan. Ternyata masa-masa kuliah adalah suatu batu loncatan yang sesungguhnya untuk menuju kesuksesan. Hari demi hari aku menjalaninya, bertemu orang-orang dan kebiasaan baru membuatku butuh waktu setahun untuk beradaptasi dengannya. Aku dari kampung, banyak yang menertawakanku ketika aku berbicara alias medhok. Dan aku tak pernah menganggapnya ia mengejekku, karena itu suatu hal yang wajar dan pasti akan mereka rasakan juga saat tinggal di tanah kelahiran orang.

Alhamdulillah di samping hal itu, semua teman-teman yang aku temui berlaku baik kepadaku. Mereka mengerti bagaimana kebiasaanku di kampung setelah aku menceritakannya. Aku selalu ramah kepada orang-orang yang baru kukenal, tentunya ini salahsatu bagian dari yang diajarkan orangtuaku kepadaku.

Ternyata kehidupan di perantauan tak jauh beda dengan kehidupanku di kampung. Hanya aku lebih berat memikirkan bagaimana kondisi kedua orangtuaku di rumah. Tak henti-hentinya aku selalu menanyakan bagaimana kesehatan mereka. Ketika aku sedang merasakan lelah karena tugas kuliah, merekalah yang menguatkanku lagi supaya menjadi berkah.

Semester demi semester aku lalui, nilaiku selalu pas-pasan, aku memang tidak terlalu lihai dalam bidang akademik, namun aku bisa menjadi diriku sendiri di bidang sosial. Menurutku jenjang kuliah tak lagi harus memikirkan bidang akademik saja, tetapi bakat dan minat harus mulai aku temukannya di sini.

Aku cuma berbekal bisa beladiri pencak silat yang diajarkan Ayahku saat di kampung, sampai akhirmya aku memberanikan diri untuk mengikuti beberapa kejuaraan namun kejayaan di pencak silat belum berpihak kepadaku. Selain pencak silat, aku juga gemar membaca dan bermain musik. Aku suka bermain gitar sejak SMP dan aku juga belum pernah menoreh prestasi dalam bidang itu.Sempat berfikir kalau aku ini memang tidak pernah membanggakan kedua orangtuaku dengan prestasi, namun setelah aku bisa menjadi diri sendiri dan mulai memahami arti hidup yang sebenarnya membanggakan orangtua tidak hanya lewat sejumlah prestasi dan medali. Tidak neko-neko dan selalu nurut kepadanya adalah hal terpenting untuk membanggakannya. Meskipun aku juga seorang idealis bagi diriku sendiri, namun perkataan orangtua menjadi suatu hal yang paling aku takuti.

Setelah selama 2 tahun aku duduk di bangku perkuliahan, tiba masanya aku harus menghadapi tantangan baru, yaitu magang. Berhubung aku kuliah di Jurusan Jurnalis, aku harus mengabdi kepada media dan membantu masyarakat mendapatkan informasi atas peristiwa yang terjadi. 

Awalnya menjadi budak media tak seseru apa yang aku pikir, namun setelah aku menjalani magang ternyata menjadi jurnalis adalah sesuatu pekerjaan yang nantinya harus aku coba meskipun cita-citaku sesungguhnya bukan menjadi jurnalis.

Melatih mental, tenaga, bertemu orang-orang penting, wawancara, dan menulis berita dengan waktu yang singkat. Itulah yang aku rasakan ketika magang menjadi reporter di sebuah media di Jakarta. Jujur aku tak pernah kepikiran akan seperti ini sebelumnya. Semua jalan yang diberikan Tuhan kepadaku selalu berwarna, meskipun terkdang lelah dan membosankan. Itu manusiawi.

Terhitung sudah berbulan-bulan aku tak lagi pulang setelah terakhir pulang waktu lebaran tahun lalu. Aku disibukkan dengan tugas-tugas kuliah pada masa akhir semester. Dan insyaallah aku lulus tahun ini. Amin. Sudah tak tahan menahan rindu tawa bersama orang-orang di rumah, harapku semoga kedua orangtuaku masih bisa menyaksikan anaknya memakai toga dan menempuh gelar-gelar selanjutnya.

Rasa semangat selalu aku tularkan kepada teman-temanku dan terimakasih serta rasa syukur tak ada habisnya aku curahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga orang-orang yang menjadi saksi kehidupanku di tanah perantauan ini selalu sehat dan berkah dalam lindungan-Nya. Amin…. 

Jumat, 15 Februari 2019

Sekeras Itukah Hatiku?


Sekeras Itukah Hatiku?
Karya : Habib Awwaluddin

Di usiaku yang cukup dewasa ini kata cinta sudah tidak asing lagi di telinga. Bagiku cinta adalah sebuah kata yang mampu menunjukkan kesempurnaan rasa kepada orang yang disayanginya. Cinta bukanlah alat untuk saling menyakiti, tapi Tuhan menciptakan rasa cinta untuk saling mengasihi. Cinta juga bukan soal materi, tapi cinta yang sebenarnya adalah tentang hati. Hati yang sudah siap menerima semua kekurangan dan menahan kesombongan akan semua kelebihan. Aku yakin setiap insan manusia di dunia ini pasti punya rasa cinta entah itu untuk keluarga, saudara, atau mungkin kepada pasangan.

Sebelumnya perkenalkan namaku Liona, Liona Putri Purnamasari. Aku adalah seorang siswi kelas XII dari salah satu sekolah swasta di Semarang. Berbicara soal cinta, kata teman-temanku aku adalah wanita yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Karena bagiku semua teman-teman pria yang mencoba mendekatiku tidak ada yang benar-benar menunjukkan keseriusannya dalam hal cinta.
Sampai akhirnya pada saat mendekati Ujian Nasional ada David, siswa kelas sebelah yang memandangku secara diam-daim di mana pun aku berada, dan saat aku menengoknya dia pun membuang arah pandangannya. “Eh Liona... btw dari tadi kamu diliatin david anak kelas sebelah loh” kata Vina teman dekatku sambil senyum mengejekku. “Yaudah biarin aja vin” jawabku dengan muka datar seperti tak merespon David. Hari-hariku mendekati UN membuatku tak acuh kepada teman sekitarku.

Suatu pagi yang sial saat uji coba UN akan dimulai aku yang bangun kesiangan dan lupa sarapan ini bergegas menuju sekolah bersama ojek online. Akhirnya aku terlambat 30 menit dan mengerjakan soal seadanya dengan sisa waktu yang ditentukan. Ketika bel bunyi menandakan waktu habis aku bergegas lari ke taman sekolahku dan menangis menyesali kecerobohanku pagi ini. “Sudah liona, jadikan hari ini pelajaran untuk hari-hari kedepannya” kata David dengan suara yang lembut dan dengan membawakanku makanan dan tisu. Dengan raut wajah sendu aku pun menerima pemberian David.

Sesampainya dirumah aku bercerita kepada Vina tentang kejadian hari ini. “Tuhkan bener... David sepertinya suka sama kamu Lionaa” ujar Vina. Tapi aku masih tidak percaya dengan perkataan Vina tadi, “iya benar nak, setiap hari nak David selalu menanyakan kamu waktu ibu belanja di rumahnya” Saut ibu yang sedang memasak di dapur depan kamarku. David seorang siswa yang pendiam,ramah, dan berprestasi itu ternyata sering menanyakanku kepada ibuku. Selama ini cuma David yang berani berkomunikasi dengan orangtuaku, karena kedua orang tuaku sangat galak terutama Ibuku. “Tuhan... kalau memang David suka sama aku, untuk pertama kalinya aku akan coba membuka hati untuknya” gumamku dalam hati.

Dari situ aku mulai belajar bareng, jalan bareng, bahkan ke gereja berdua sama David, David selalu datang ke rumah dan dengan sopan meminta izin kepada kedua orang tuaku kalau mengajakku pergi. Sampai akhirnya saat hari terakhir UN aku diajaknya ke sebuah tempat dimana itu adalah tempat kesukaan David. “Ini adalah tempat favoritku Liona, tempat dimana ketika aku sedang merasa sedih,tempat dimana caraku meluapkan kegembiraan, dan aku mau tempat ini jadi saksi awal aku menjalin hubungan denganmu Liona” ungkap David sambil memberi setangkai mawar merah kepadaku. “David, kau tau aku bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta kepada siapapun. Apa yang membuatmu yakin dengan kata-katamu itu?”balas Liona dengan menundukkan kepalanya. “Aku tau semua tentang kamu Liona, aku diam-diam selalu memperhatikanmu di sekolah dan di rumah, dan aku percaya Tuhan tidak akan terus menutup hati hambanya, hatimu yang sekeras batu itu perlahan akan luluh ketika ada seseorang yang berjuang dan berusaha mendapatkan cintamu. Dan orang itu adalah aku, semua kekurangan yang ada dalam diri kamu membuatku berusaha menerima bahkan menutupinya dengan cintaku” Jawab David sambil menatap mata Liona.

Akhirnya aku yang terkenal susah jatuh cinta pun luluh dengan jerih usaha David, dan kita menemukan jalan kuliah masing-masing tanpa mengurangi sepersen pun rasa cinta yang ada pada masing-masing hati kita. Dan semoga David adalah cinta pertama dan terakhirku.


CINTA (?)

Insan kaula muda memang seperti haram hukumnya jika tidak bicara soal cinta. Bukan lagi hal yang tabu, cinta sudah seperti kebutuhan yang ha...